“Hei, sudah! Diam! Gua udah gak suka lu begini terus! Sok ngajarin tau gak lu! Belagu banget lu jadi orang, pake nyuruh gua shalat segala!”
Aku tidak menjawab. Aku tahu, dia sedang emosi, akan lebih baik jika dihadapi dengan tenang.
“Lu sekarang dah berubah, man!” lanjut Reynald, “dulu lu gak begini!. Hello?! Mana Edwin yang gua kenal?! Mana Edwin yang sering ngajakin gua ke klab? Mana Edwin yang sering ngasih gua kebebasan buat nentuin apa yang gua mau? Manaaaaa?! Nggak! Elu bukan Edwin yang gua kenal!” sebuah telunjuk menghujam ke hidungku.”Basi!” ujarnya lagi.
“Tapi, Nald. Semua orang berubah. Dan itu pun terjadi sama aku. Kamu percaya gak? Kalo ternyata perubahan yang aku alamin ini begitu menakjubkan?!” aku mencoba untuk berbicara, mencoba menenangkan Reynald yang naik pitam.
“Hhh? Perubahan?!” pandangan sinisnya menggerayangiku.”begini ini yang elu bilang perubahan? Sok alim tau gak lu” kemudian dia membuang pandangannya.
“Alhamdulillah… Allah ngasih aku hidayah, Nald. Alhamdulillah belakangan aku sadar betapa selama ini aku jadi orang yang paling merugi. Bahwa emang selama ini aku emang bangsat. Nggak ,Nald. Selama ini aku nggak punya arti. Ternyata apa yang dulu kita lakuin itu, foya-foya, ke klab, begini begitu, ternyata semua itu gak ada artinya, Nald! Kamu tau kenapa, Nald? Karena ternyata… selama ini ,Nald, selama ini aku gak kenal Allah… “
Sejenak aku menghela nafas. Ya, aku memang mulai berubah. Sekarang tidak ada lagi dalam agendaku yang namanya main wanita, foya-foya atau ke klab hampir tiap malam. Alhamdulillah… segala puji bagi Allah yang teramat menyayangi hamba-hamba-Nya. Untuk aku yang nista dan penuh dosa ini-pun, Allah masih mau memberikan hidayah-Nya sehingga aku tersadar akan kerugianku yang lupa pada-Nya.
Tapi tidak bagi Reynald, sahabatku dan teman bergaulku ke klab, orang yang sering aku ajak ke disko, atau mengincar wanita, orang yang aku ajak minum-minum dan nge-drugs. Sudah tidak terhitung kalinya aku mencoba untuk mengingatkan dia supaya lekas-lekas bertaubat, memohon ampunan Rabbi. Tapi jangankan anggukan kesadaran, dia malah menyodorkan jawaban sinisnya atas ajakan yang kuberikan.
“Nald. Ayolah, sampai kapan kamu begini terus? Ingat, Nald. Allah itu ada, dan …”
“Oh,yeah?”. Begitu saja, lantas dia berlalu tanpa sedikitpun merasa bersalah. Tinggal aku saja disini yang duduk terdiam, tak habis pikir dengan apa yang diucapkan Reynald barusan.
Tidak. Dia tetap keras kepala. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan agar Reynald mau sejenak merenungkan kesesatannya? Berilah dia petunjuk-Mu Ya Rabbi…..
***
Aku bergegas. Tidak, tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan berita yang baru saja aku terima dari Iwan: Reynald kecelakaan! Masya Allah… bagaimana kejadiannya?
“Rey…Reynald! Reynald mana, Wan? Gimana keadaan Reynald? Bagaimana kejadiannya sampai dia kecelakaan? Trus apa penyebabnya? Motornya nabrak apa?, Wan! Ngomong Wan!” aku mengguncang-guncang badan Iwan. Ya, aku panik..
“Sabar, Win. Elu gak boleh panik begini! Yang ada lu makin nambah ruwet keadaan!” Astaghfirullah…aku segera meminta ampunan-Nya. Iwan benar, aku tidak boleh menghadapi ini dengan panik. Ya Allah… berilah hamba-Mu petunjuk…
“udah tenang?” tanya Iwan. Dia kelihatan sedikit lusuh. Disekitar bahunya terlihat ada sobekan baju dan memar… O, begitu. Iwan sedang bersama Reynald saat kejadian.
Aku mengangguk, sambil menghela napas dalam. “udah, Wan. Sekarang udah sedikit tenang”
“Nah, sekarang mendingan lu masuk aja ke dalam. Lu bisa liat sendiri keadaan Reynald bagaimana.ok?” ujar Iwan mempersilahkan aku masuk.
Begitu masuk ke dalam, kutemukan Reynald terkapar tak berdaya, lengannya dibalut, juga kakinya. Selang infus serta kabel-kabel indikator turut membaluti tubuhnya. Masya Allah, Reynald…
Lama kupandangi keadaan Reynald. Aku tak habis pikir, kenapa Reynald begitu keras kepala, tidak mau mendengarkan kata-kataku. Ya Allah, jika kejadian ini merupakan jalan hidayah dari-Mu untuk Reynald, hamba mohon bimbinglah hatinya Ya Allah…
“Ed….Edwin….?” aku tersentak. Masya Allah! Reynald?!
“Reynald?… kamu udah sadar? Alhamdulillah… sebentar ya, aku panggil dokter dulu”
“Nggak…jangan..jangan. Jangan dulu. Sini,… sebentar, gua mo ngomong… sama lo” ucap Reynald lirih. Wajahnya yang masih pucat sebenarnya tidak membuatku tega untuk membiarkannya bicara banyak. Tapi, Reynald mau bicara……..?
“Nald, kamu jangan banyak bicara dulu. Lihat tuh, muka kamu pucat. Aku panggilin dokter dulu,ya?”
Tidak menjawab, Reynald malah tersenyum cengingis.
“keras kepala….” ujarnya “lu emang udah berubah, Win…”
Deg. Hatiku tersigap.
“Tapi…gua seneng…lu dah berubah. Jujur, gua…emang bangga lu mau berubah. Lu, mau berusaha buat berubah, itu yang bikin gua salut… Nggak…nggak kayak… gua….”
Sejanak, sepercik air bening keluar dari sudut matanya: Reynald menangis.
“Reynald… kamu jangan ngomong begitu. Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Yakinlah, belum terlambat buat taubat, Nald.” Ujarku mencoba menenangkan hatinya. Jujur, aku sedikit kaget melihat Reynald menangis. Seumur-umur baru kali ini aku melihat Reynald bisa menumpahkan air mata.Subhanallah…
“Allah….?”ujarnya lirih.
“Ya. Allah. Dia-lah yang Merajai segala-galanya. Dia-lah Yang Menguasai seluruh yang ada maupun tidak ada. Dan Dia-lah, Yang Maha Menyayangi makhluk-Nya… Allah Maha Besar….Allah Maha Besar”
“Hhh….” Reynald menarik napas dalam. Sejenak ia menutup matanya, namun masih, air mata mengalir dari kedua pelupuk, bahkan semakin deras.
“Ya… Allah Maha Besar… Allah Maha Besar… Allah Maha Besar….” Berkali –kali ia menggumamkan takbir. “AllahuAkbar… AllahuAkbar….”
. “Reynald…..” aku merunduk dalam. Tak kusadari, air mataku pun turut tercurah. Hatiku turut bertakbir: Allahu akbar.. Allahu akbar….
“Masihkah… Allah mau mengampuni aku ,Win? Aku yang … menjijikkan ini? Aku yang nista dan hina? Aku yang …. Bahkan sempat tidak percaya pada-Nya? Masihkah, Win?” Dia menatapku dalam. Tetap, air mata membanjiri wajahnya.
“Pasti. Bersungguh-sungguhlah… Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya”
Ia kembali menutup mata, membiarkan air matanya ysng tumpah berderai dengan tepat menggambarkan keadaannya yang sekarang sungguh benar-benar dalam keadaan tak berdaya. Menyesal? Ya, aku sedang menyaksikan Reynald yang menyesal. Dia taubat.
“Win, makasih banyak….” Ucap Reynald lirih.“Dulu. Udah berapa kali kamu nyuruh aku buat berubah… tapi, tetap aja…aku yang keras kepala, aku yang tinggi hati, tetap aja nggak mau denger. Emang ya, aku ngeselin banget?” dia mencoba mengukir senyum, tapi tetap saja, air mata itu tetap mengalir.
“Sebenarnya…” sambungnya “aku juga mikir buat begitu, buat berubah… udah lama aku ngerasain hampa. Ya, Win. Jiwa aku hampa, kosong. Tapi, entah kenapa, ada-ada saja pikiran yang bikin hatiku jadi batu, nggak mau terima. Sampai… pas kecelakaan tadi. Kamu tau apa yang aku lihat, Win, pas aku nggak sadar?”
“apa.Nald?”
“aku… melihat… kematian.”
Sampai disana ia kembali berhenti. Lagi, berderai air matanya tercurah membasahi wajahnya.
“Pas itu aku baru nyadar… pas itu aku baru tahu bahwa kematian itu pasti datang.. dan .. apa? Apa yang mau aku bawa saat kematian itu datang?! Apa? Nggak ada?…..”
Kali ini benar-benar. Air matanya benar-benar tumpah ruah, bahkan bisa dibilang kelihatan sedikit meraung.
“Laailahaillallahmuhammadurrasulullah” Reynald benar-benar menyesal. Dengan dalam ia ber-tahlil mengharapkan ampunan Sang Khalik. Alhamdulillah… Ya Allah terimaksih Engkau telah menuntun hati Reynald…
“Reynald, aku bangga sama kamu, … orang tua kamu di ‘sana’pun pasti juga senang sekali. Ya, Nald?”
Dia tidak menjawab. Wajahnya kelihatan lebih tenang; tak bergeming; tidak berderai air mata seperti tadi, tapi…. Ya Allah!
“Reynald… Reynald…! Nald…! Nggak,Nald… nggak Nald. Ini terlalu cepat… Reynald!” aku meraung. Kuguncang-guncang badannya, lalu kurangkul, erat sekali. Namun, dia tidak menjawab.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun … Reynald…
Tau…bat!
Januari 27, 2008 pada 6:24 am (Tidak terkategori)
Tags: karyasendiri
Bidadari
Januari 27, 2008 pada 6:20 am (Tidak terkategori)
Tags: karyasendiri
“Rasanya sekian saja pertemuan kita pada hari ini. Jika semisal ada permasalahan yang masih mengganjal, insya Allah akan kita tangani bersama” ujar Haykal menutup liqa’ malam itu. Kemudian majelis mengakhiri pertemuan malam itu dengan doa.
Sudah dua bulan ini aku tergabung dalam kegiatan majelis taklim. Adalah Razi, teman sekampusku, yang berinisiatif mengundangku dalam majelis ini. Entah apa pikiran Razi kala itu, sehingga mau mengajakku bergabung.
“ Apa? Majelis taklim? Please deh ah…” ujarku kala itu
“ Emang kenapa sih? Bagus lagi. Lo tau gak, ‘keberkahan itu ada dalam jamaah’, setiap kegiatan, kita gak pernah melakukan kegiatan yang sia-sia: tadarus, tausyiah, diskusi, kerja bakti. Itu bagus dan positif ‘kan?” Razi mencoba menjelaskan.
“ Oke, zi. gua juga tau kalau itu baik dan bagus. Tapi, kayanya ga sekarang deh….” Kemudian aku berlalu begitu saja, meninggalkan Razi yang hanya bisa mengurut dada.
Belum siap? Barangkali alasan itu terlalu klise. Begitu banyak pikiran buruk menyeruak ketika aku mendengar kata-kata ‘liqa’, ‘majelis taklim’,atau ‘ikhwan’. Ya, eksklusif-lah, manusia berjenggot-lah, ekstrem-lah, tertutup-lah dan seabrek label negatif lain yang entah kenapa seolah telah tertanam dalam benakku. Ampun, tapi aku tidak bisa menyembunyikan bahwa diam-diam aku juga terkagum dengan komunitas satu ini. Prestasi yang mereka tonjolkan memang tidak bisa dianggap sepele. IP yang berkisar di angka tiga; kecintaan luar biasa pada pengetahuan; solid; peka lingkungan; dan idealis. Waduh, tapi entah kenapa rasanya beraaa..t sekali untuk memulai bergabung dengan orang-orang itu, dan menjadi seperti mereka. Aku belum siap.
Tapi tidak ketika siang itu. Hari itu ada praktikum Fisika di gedung Laboratorium Dasar. Lepas dari materi yang ‘njelimet sejenak aku ingin mengisi kekosongan perut, tadi pagi sarapanku di-skip karena diburu waktu ke Labor. Langkah santai kuarahkan ke kantin Labor…
“Bu, nasi gorengnya satu piring, ya?” sambil menunggu pesanan datang, sejenak aku melayangkan pandangan ke taman. Kantin ini adalah kantin favoritku, selain karena makanannya enak dan harga yang cocok dengan kantong anak kos, lokasinya yang bersebelahan denga taman bunga membuatku betah berlama-lama disini. Sejuk, dan damai. Barangkali itu juga adalah pertimbangan orang-orang ini mangkal disini, eits, termasuk juga komunitas jilbab panjang, dan olala…. Siapa itu? Tangannya yang sedang memgang kertas dan pulpen menari-nari di atas meja makan. Sepertinya gadis ini sedang menjelaskan sesuatu. Setiap ucapannya disahuti anggukan temannya tanda paham. Sesekali mereka tertawa bersama, kemudian tangan yang tertutup rapat sampai pergelangan itu kembali menari-nari di atas kertas. Tanpa tersadar aku telah terbuai kesejukan taman bunga yang didiami bidadari berjilbab panjang yang sedang memegang pulpen dan kertas. Dalam sekejap semua orang di kantin raib dari pandanganku tergantikan seorang bidadari yang tersenyum ramah padaku. Bidadari ini bukanlah bidadari yang seksi dan kerap menunjukkan aurat sebagaimana banyak terangkum dalam literatur-literatur Barat, namun bidadari ini seorang akhwat berjilbab panjang dan berbaju gamis. Justru karena tertutup inilah malah terpancar keindahannya. Tutur kata yang sopan, mata yang kerap tertunduk dan tidak liar membuat hatiku teduh memandangnya. Sejuk dan damai. Persis seperti taman bunga yang sedang bermekaran indah…
“Mas, ini nasi gorengnya..!” seruan Bu kantin yang cukup keras membuyarkan pandanganku. Astaga!
Benar-benar. Baru kali in aku bisa dibuat begitu terpana pada seorang gadis. Masih teringat dengan jelas setiap detail apa yang dilakukannya di kantin siang itu. Tampak jelas kalau si Bidadari ini adalah seorang akhwat. Yap, mulai sekarang aku memberikannya nama : Bidadari, persis seperti bayangan yang terlintas saat pertama kali melihatnya. Bidadari adalah seorang yang supel, itu bisa dilihat dari banyaknya teman-teman yang berburu untuk selalu dekat dengannya. Pasti ia adalah seorang yang ramah, tiap tutur katanya menyejukkan hati, tidak ada makian, yang ada hanya nasehat dan kata-kata menghibur. Cara berjalannya memperlihatnkan keanggunan seorang wanita. Tidak menggal-menggol seperti kebanyakan gadis-gadis metropolitan di sinetron. Namun gadis ini kerap berjalan pasti, namun gesit. Pandangan kerap ditundukkan apalagi ketika bertemu lawan jenis. Ucapan salam dan senyuman ramah tak luput dari setiap pertemuan dengan teman-temannya. Dan yang membuatku tak habis pikir, ia lebih suka berlama-lama terbenam dalam buku-buku ketimbang membicarakan artis atau band-band favorit seperti kebanyakan teman yang lain.
Selintas aku teringat ucapan Razi beberapa waktu silam.
“Wanita yang baik-baik untuk pria yang baik-baik”
“Apa?” aku bertanya
“Ya. Itu ada dalam Al-Quran lho. Artinya, kalo lo mengaharapkan wanita baik-baik jadi pasangan lo, pertama lo mesti liat dulu apa lo dah jadi pria baik-baik atau belum?” kala itu Razi menjelaskan. Dan kala itu pula, aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Toh, aku belum bertemu seseorang yang mampu meluluhkan hatiku. Toh aku belum bertemu Bidadari…..
Kemudian…
Aku bergegas. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam. Meskipun tidak begitu jauh dari kos-kosan, ternyata aku kurang begitu hafal dimana letak Mesjid Al-Amin. Ups, pasti ini karena aku tidak pernah shalat berjamaah di masjd. Yang terbayang di benakku adalah reaksi Razi dan teman-temannya yang kesal menungguku sedari jam delapan tadi. Walah, padahal tadi pagi aku yang mencak-mencak mau ikut kegiatan Majelis Taklim. Awalnya Razi sempat terheran-heran kenapa tiba-tiba aku ingin ikut setelah sekian lama usahanya untuk membujukku tidak berhasil.
“Ya sudahlah. Yang penting gua seneng lo mo ikutan majelis” ujarnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut kenapa aku berubah pikiran
“Nanti malam ba’da isya. On time ya?” lanjut Razi sambil tidak lupa mengingatkan kalau ‘bada Isya’ itu kira-kira jam delapan malam.
“I…Insya Allah…” jawabku. Olala….
Wanita baik-baik untuk pria baik-baik. Kalimat ini sekarang begitu menghujam di sanubariku. Bagaimana si Bidadari bisa respek dengan ku sementara shalatku sering bolong, puasa sering kosong, ngomong sering bohong dan sering tidak mau dimintai tolong. Walah, pasti jauh banget deh dengan tipenya si Bidadari dong….!
“Assalamualaikum” ujarku begitu sampai di pintu masjid
“Waalaikumsalam warah matullahi wa barakatuh” jawab Razi dan teman-temannya serempak. Tampak mereka telah membentuk formasi melingkar Seseorang tengah membuka lembaran Al-Quran. Oh, barangkali sedang tadarusan begitu aku sampai disini, pikirku. Razi kemudian menggamitku, mempersilahkan masuk. Lalu seseorang menghampiriku.
“Subhanallah. Antum yang bernama Dito?” sapanya ramah seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Ana Haykal” ujarnya memperkenalkan diri. Lalu aku menggamit tangannya. Salamnya hangat dan erat. Aku masih ingat cerita Razi. Ya begini ini seharusnya apabila sesama muslim bertemu, agar gugur dosa antara keduanya. Subahanallah…
Rupanya Haykal adalah ketua liqa’ ini. Satu persatu aku diperkenalkan pada anggota liqa’. Ada Anas, Iwan, Anto, Mahdi, dan lain-lain. Sebagian wajahnya masih familiar, karena sekampus denganku. Ya inilah mereka yang kala itu kujuluki ‘komunitas berjenggot’.
“Assalamualaikum, akhi” ujar mereka. Aku tau dari Razi, kalau ‘akhi’ berarti ‘saudaraku’.
“Waalaikum salam juga, akhi-akhi” jawabku. Terlihat sebagian dari mereka tersenyum mendengar jawabanku yang lebih mirip berarti ‘kakek-kakek’, ketimbang ‘saudaraku’.
Hari demi hari kujalani sebagai diriku yang baru. Perlahan namun pasti, aku kembali merajut tali-tali iman yang mulai terputus. ‘keberkahan ada dalam jamaah’ begitu kata Razi. Ya, itu benar yang kurasakan sekarang. Haykal, cs membuatku begitu terpana ketika kuketahui ternyata mereka begitu antusias dengan niatku untuk memperdalam agama. Seabrek buku-buku kuterima sebagai hadiah. ‘Sesama muslim hendaklah saling memberi hadiah’ bisik Razi kala itu. Ya, bagi komunitas ini, yang notabene sekarang adalah komunitasku juga, buku adalah benda yang teramat berharga. Bahkan aku pernah melihat sendiri Haykal memungut serpihan koran yang terserak tak bertuan di jalan raya.
“Ilmu kok dibuang” sungut Haykal sembari meneliti isi koran kemudian menyimpannya di saku “artikel tentang Teknologi Pangan, Insya Allah ilmu ini berguna suatu hari nanti” lanjutnya. Subhanallah…
Tapi satu hal yang tidak kutahu, ternyata komunitas ini tidaklah se-eksklusif seperti yuang kupikirkan. Mereka mengurangi bergaul, hanya pada orang-oarng yang, maaf, jauh dari agama. Islam memang melarang kita untuk menyia-nyiakan waktu. Cuma berkumpul untuk membicarakan pacar, artis, atau hal sia-sia lainnya sudah pasti tidak dianjurkan Islam. Alangkah mempesonannya seseorang di saaat mudanya menguras tenaga dan pikiran untuk kemaslahatan umat. Nah, inilah yang dilakukan Haykal dan teman-teman. Belajar, berdiskusi, kerja bakti dan amal-amal lainnnya digawangi ketika waktu luang tersedia.. Subhanallah…
…..
Posisi bantal kubetulkan, aku ingin tidur secepatnya sehingga dapat bangun shubuh lebih awal. Banyak sekali nashihah yang kuperoleh dari liqa’ malam ini. Mulai dari cara bersikap saat makan, posisi tidur, sampai sikap pada pasangan hidup. Walah, pikiranku kembali melayang pada Bidadari. Sudah berapa lama ya, aku tidak melihatnya? Seabrek kegiatan di ‘komunitas’ku yang baru sedikit banyaknya menyita waktu. Kantin labor sudah jarang kukunjungi. Entah sudah berapa bunga di taman yang telah berganti daun tanpa kuketahui. Entah sudah berapa kali pemandangan Bidadari yang tangannya sedang menari-nari di atas kertas kulewatkan. Aku merindukan pemandangan itu, aku merindukan Bidadari…
Esoknya…
“Lagi ngeliat apa sih, To?” sergah Razi. Seakan tak peduli mataku tetap kelirang keliring menyapu ruangan kantin, berharap menemukan sosok berjilbab panjang yang sedang memegang pulpen sembari memainkan jemarinya di atas kertas note. Tapi, Bidadari tetap tak kutemukan. Dimana ya, gerangan?
‘Cinta Produktif’, karangan Abu AL-Ghifari. Razi memberikannya padaku tadi siang di kantin Labor. Sebuah literatur yang bagus, menurutnya. Walah, seakan dia tahu saja kalau aku memang sedang dipenuhi energi cinta. Inikah cinta? Ya Allah, layakkah aku mendapatkan seorang Bidadari? Apakah aku telah menjadi seorang mukmin yang baik sehingganya pantas mendapatkan seorang muslimah yang baik, seperti Bidadari? ‘Wanita baik-baik untuk Pria baik-baik’. Kalimat ini sebegitu menghujamya dalam diri hamba Ya Rabbi. Ijinkan hamba bersujud pada kehadirat-Mu Ilahi….
Aku berdoa untuk seseorang yang akan
Menjadi bagian dari hidupku
Jadikanlah dia…
Seseorang yang sungguh mencintai-Mu
Lebih dari segala sesuatu
Seseorang yang meletakkanku pada posisi kedua
Dihatinya setelah Engkau
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri
Tapi untuk-Mu
Seseorang yang memiliki hati yang bijak
Bukan hanya otak yang cerdas
Seseorang yang mencintaiku bukan karena zahirku
Tapi karena hatiku
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku
Tapi juga menghormatiku
Seseorang yang tidak hanya memujaku
Tapi juga menasehatiku
Seseorang yang dapat menjadi sahabat baikku
Dalam setiap situasi dan waktu
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna
Bimbing kami
Untuk bisa saling menyempurnakan
Amiiin
Ini adalah bulan ke-enam sejak pertama aku melihat Bidadari. Namun, semenjak itu tak sekalipun juga mataku bersirobok dengan sosok gadis berjilbab panjang yang tangannya sedang menari-nari di atas kertas sambil sesekali tertawa bersama teman-temannya. Allahu Rabbi, mungkinkah yang kulihat kala itu benar-benar seorang Bidadari? Yang hanya singgah sebentar ke Bumi untuk menunjukkan KeMahaKuasaan-Mu?. Mungkinkah dengan itu Engkau memberiku jalan sehingga menemukan hidayah-Mu untuk bergabung bersama Majelis Taklim sehingganya aku bisa mulai merajut kembali tali iman yang sudah putus sehingga menjadi utuh kembali? Tak dinyana keningku tersungkur menyentuh sajadah. Mata ini menangis, menagisi kelengahanku akan KeMahaDayaan Allah. Bahwasanya ‘Kun’, fayakun. Maka segala sesuatu itu terjadilah. Allah telah mengepungku dengan manusia-menusia yang luar biasa: ada Razi yang terus sabar membimbingku. Ada Haykal yang menjadi teladanku, dan ada Bidadari yang senantiasa terus mengilhamiku. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Hamba kembali pada-Mu Ya Allah… seutuhnya…
* * *
Tanganku yang memegang pulpen menari-nari di atas kertas note block. Aku dan teman-teman majelis taklim sedang mengatur perencanaan tentang kegiatan Pengumpulan Dana untuk Palestina. Kami berada di kantin Labor. Sesekali kami tertawa bersama. Kantin in adalah kantin favoritku, selain karena makanannya enak dan harga yang cocok dengan kantong anak kos, lokasinya yang bersebelahan denga taman bunga membuatku betah berlama-lama disini. Sejuk, dan damai. Barangkali itu juga adalah pertimbangan orang-orang ini mangkal disini, eits, termasuk juga komunitas jilbab panjang, dan olala…. Siapa itu? Tangannya yang sedang memgang kertas dan pulpen menari-nari di atas meja makan. Sepertinya gadis ini sedang menjelaskan sesuatu. Setiap ucapannya disahuti anggukan temannya tanda paham. Sesekali mereka tertawa bersama, kemudian tangan yang tertutup rapat sampai pergelangan itu kembali menari-nari di atas kertas…
“Bidadarikah?”
“Pria baik-baik untuk Wanita baik-baik”